h1

jodoh dan rezeki di tangan tuhan

April 11, 2007

(Saya tulis sebagai tanggapan untuk dibincangkan dengan kawan-kawan di Xanadhu, salah satu tempat favorit saya yang telah lama sekali “ditinggalkan” para penghuninya. Pada 2 April lalu, Kak Muna mencoba menyalakan kembali unggun diskusi dengan melontar pertanyaan, “Apakah Allah terperangkap dalam dualitas?” Kemudian, “Ketika Allah membiarkan (saya tidak menggunakan kata menghadirkan atau menyelenggarakan) tsunami terjadi sungguhkah itu karena dia telah mempertimbangkan untung-ruginya, baik-buruknya, dsb? Jika tidak, atas konsiderasi apa Tuhan membiarkan itu terjadi?”)

=====

Tuhan sudah mencipta segalanya: menyempurnakan penciptaan alam, juga menetapkan hukum-hukumnya, termasuk ketidakaturan yang erat kaitannya dengan sebab-akibat.

Bencana dahsyat akibat tsunami, lenyapnya Adam Air dari pandangan manusia, Garuda nyungsep di Jogja, banjir besar menggenangi persada nusantara, itu “kehendak Tuhan” yang terjadi karena sebab-akibatnya telah digenapi manusia; kita menikahi atau tidak jadi menikahi siapa, mendapat sesuatu atau tidak mendapat apa-apa dari mana/siapa, itu kehendak Tuhan yang terjadi karena sebab-akibatnya sudah kita lengkapi.

(Duh, saya terganggu sekali setiap mendengar selebriti, yang disangka orang sebagai panutan hidup, berkata, jodoh dan rezeki di tangan tuhan. Ingin sekali saya menimpali mereka: jadi kita ditindas pun itu kehendak Tuhan? Jadi si anu menindas kita itu juga kehendak Tuhan semata? Kita jadi miskin, kaya, nelangsa, bahagia, itu juga karena sudah ditetapkan begitu? Lalim sekali Tuhan kalian, kawan….)

Alam ini, meski telah genap penciptaannya, ia terus bertumbuh, dan suatu saat nanti, entah kapan, pertumbuhannya akan selesai. Segala ketidakaturan pun terus terjadi dan berlangsung hingga hari ini, sampai nanti, menuju berbagai keteraturan. Keteraturan ini bisa berujung pada kejayaan manusia atau kehancurannya, semua terserah manusia—Tuhan “tidak bisa” campur tangan lagi dalam soal ini. Karena tak mungkin Sang-maha-teratur itu menyalahi aturan sebab-akibat, hukum alam, tradisi/perilaku Tuhan (sunnatullah), atau apalah istilahnya, yang dibuat-Nya sendiri.

Di tengah proses pertumbuhan inilah, dalam kondisi serba acak, manusia dicipta untuk mendiami bumi, menjadi “tuhan kecil”—sebutlah khalifah Tuhan—di dunia fana. Sejak mula, menurut Quran, niat-Nya sudah diprotes para malaikat, “Akankah Kauciptakan dia yang nantinya akan merusak segala cipta dan menumpahkan darah sesamanya di dunia?” (Begitulah, even angels ask, kata Dr. Jeffrey Lang. Tapi mengapa kita “dilarang” bertanya dan mempertanyakan apa saja?)

Human beings are a disease, a cancer of this planet. You’re a plague and we are the cure. Agent Smith, The Matrix.

Mengapa Tuhan tetap ngotot mencipta manusia, yang Dia tahu punya bakat menghancurkan dunia? Euh, sungguh saya tidak tahu. Tapi, mungkin sebabnya karena Tuhan mengerti sekali bahwa manusia juga punya bakat luar biasa untuk membangun dunia; karena Dia paham benar bahwa manusia mampu cenderung berbuat baik selain bisa cenderung berbuat jahat.

Berbuat baik yang saya pahami adalah berkelakuan sesuai perilaku Tuhan (bisa berarti sesuai hukum alam, memuliakan kemanusiaan, dsb.) Berbuat jahat adalah sebaliknya. Jadi, saya tidak melihat Tuhan “menciptakan” kejahatan. Kita, manusialah, yang memperbuatnya dengan anugerah kehendak bebas kita.

Kembali ke soal awal: terperangkapkah Tuhan dalam dualitas saat membuat keputusan dan bertindak? Tidak, Dia telah menetapkan posisi-Nya sejak semula Dia mencipta: semua pasti bertujuan baik belaka. Selanjutnya, ketika terjadi kekacauan aturannya—misalnya terjadi bencana di dunia—Dia tak lagi dalam posisi membuat keputusan atau bertindak. Hukum alamlah, atau aturan-aturan lainnya, yang “bertindak” secara otomatis.

Atas pertimbangan apa Tuhan membiarkan terjadinya tsunami yang merenggut ribuan nyawa dalam sekali tepuk seketika? Yang jelas, bukan pertimbangan baik-jahat/dualitas. Tapi karena Dia tak akan pernah berniat mencurangi aturan-Nya sendiri. [x]

—durentiga, dini hari 11 April 2007

*NB. omong-omong, judulnya ngga nyambung, ya?*

7 komentar

  1. Makan manusia acap kali menimpakan kesalahan kepada Tuhan, sedangkan Tuhan telah berpuisi bahwa “Telah nyata kerusakan di darat dan di laut karena ulah manusia” Mengapa Tuhan masih berkeinginan menjadikan manusia? Andai jawaban ini diketahui manusia, niscaya dia tak lagi bertanya “di mana Tuhan?” ketika musibah menimpa manusia tsb. Maka, Nikmat Tuhanmu yang mana yang kamu dustakan?

    by, Herman RN
    lidahtinta.wordpress.com


  2. [...] Ah, itu soal berat, cuma bikin pening kepala, sama sekali tidak menyenangkan. (Dan biarlah jodoh dan rezeki di tangan Tuhan, supaya kita punya peluang mengambinghitamkan saat jadi [...]


  3. Ambil sedikit kisah kakakku yang sudah 10 th menjanda sejak umur 27, dan dia sempat berikrar tidak akan kawin lagi setelah disakiti ex-suaminya…tapi ternyata Tuhan berencana lain, Tuhan memberinya lagi jodoh dan mereka Insha’Allah akan menikah tahun ini.

    Aku semakin percaya jodoh/rejeki di tangan Tuhan, biarpun manusia menolaknya sekalipun.


  4. dece, kakakmu bebas memilih untuk menikahi (calon) suaminya atau tidak. aku yakin Tuhan “tidak ikut campur” saat kakakmu menentukan keputusan/pilihannya (menikahi atau tidak, menikah lagi atau tidak, dsb).

    bahkan, misalnya, kakakmu “diberi” beberapa jodoh oleh Tuhan, jika ia tetap memilih untuk tidak menikah lagi, tak akan terjadi pernikahan itu. jadi, soal “memilih”, kan?

    salam untuk kakakmu, semoga berbahagia selalu. amin.


  5. [...] pun, saya masih sempat “menyusupkan” opini saya soal jodoh “bukan” di tangan Tuhan dalam undangan [...]


  6. Manusia hanya memiliki kemampuan membuat sketsa hidup yang matang.
    dan kematangan itu adalah hak tuhan yang tak pernah ada yang tahu sebelumnya.

    maka dari itu,
    jangan urung berniat.
    anggap aja sebuah cita-cita

    salam

    Akmal MR


  7. Karena tak mungkin Sang-maha-teratur itu menyalahi aturan sebab-akibat, hukum alam, tradisi/perilaku Tuhan (sunnatullah), atau apalah istilahnya, yang dibuat-Nya sendiri.

    wah mas..tuhan kan ada sebelum alam semesta ada..sebelum waktu ada (waktu = kreasi manusia untuk menjabarkan jarak 2 peristiwa pada dimensi non spasial)
    jadi tuhan bisa dibilang tidak terikat oleh waktu..(tidak terikat ruang juga tentunya)..
    jadi tuhan bisa:
    1) dimana saja kapan saja
    2) tidak dimana saja tidak kapanpun (dalam ruang yang kita sebut alam semesta)
    jadi keluar dari hukum sebab-akibat ya harusnya gampang aja buat sesuatu yang tidak terikat ruang-waktu :) mungkin



Tinggalkan sebuah Komentar