Wanadri Orienteering Games 2011

Informasi selengkapnya ada di sini.

Sila unduh (boleh diperbanyak/difotokopi):

Formulir Pendaftaran Foot-O WOG 2011

Formulir Pendaftaran Ekshibisi MTBO WOG 2011

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under gado-gado, lingkungan

Kaos Oblong Kaligrafi Arab

Kaligrafi huruf arab tidak mesti menampilkan ayat Quran. Peribahasa, kalimat hikmah, atau ungkapan-ungkapan motivatif, bisa tampil sebagai kaligrafi arab. Seperti desain busana BARAKA ini, sama sekali tidak memuat kata-kata atau kalimat yang dianggap suci. Jadi, “aman” dipakai, tidak merendahkan wibawa simbol-simbol kesucian. Nah, ayo sila dibeli. :D

Facebook.com/BARAKAclothing

*btw sepertinya ‘kaus’ lebih tepat dibanding ‘kaos’. tapi coba ketik di Google ‘kaus oblong’ … ;)


3 Komentar

Filed under gado-gado, islam?, lukisan grafis

Menjawab Alexa, tentang Shalat Khusyu’

Khusyu’ itu artinya tunduk. tentu saja, tunduk kepada-Nya. Kita sulit untuk bisa merasa tunduk (takut, pasrah, penuh harap, dsb.) dalam kerja atau ibadah apa pun (shalat, misalnya) kalau kita ngga paham benar buat apa mesti tunduk, buat apa mengerjakan (ibadah) ini-itu, dst. Bagaimana pun, kita orang-orang awam ini sulit terpisah dari kepentingan (interest), maka pekerjaan kita suka didasari tanya “buat apa?”

Suatu ketika, seseorang mendapati Imam Ali Zainal Abidin gemetar ketakutan saat berwudhu. Seusai wudhunya, dia tanya, “Mengapa kau gemetar?” Dijawab: “Tak tahukah kau, kepada siapa aku akan menghadap (dalam shalat) setelah (berwudhu) ini?” Kalau kita paham lahir-batin akan kesejatian Tuhan, sudah tentu sukarela atau terpaksa kita akan tunduk, takut, pasrah, dsb., hanya kepada-Nya. Begitulah logika jawaban itu.

Bahkan, meski kita sudah merasa paham buat apa mesti tunduk, sering dalam praktiknya kita tetap sulit tunduk (khusyu’). Contohnya saya. Pengalaman saya, sering soal-soal praktis duniawi mengganggu ketundukan (ke-khusyu’-an) dan konsentrasi dalam ibadah, terutama shalat. Misalnya, saya sedang menunggu telepon dari seseorang yang hendak kasih order (duit!) Dalam kondisi itu, saya shalat. Potensinya besar sekali bahwa saat shalat nanti saya akan was-was menyimak telepon kalau-kalau berdering. :) Solusinya yang instan gampang: matikan telepon sebelum shalat.

Tapi solusi yang lebih mendasar (fundamental, substansial) adalah berusaha ngga putus setiap saat mengingat-ngingat (disebut juga dzikir) bahwa Tuhan itu tempat bergantung segala sesuatu (ash-Shamad). Dalam kasus nungguin telepon tadi: terlepas dari sebab-sebab logis nyampainya rezeki (duit) ke saya, sejatinya Tuhanlah yang mengatur lalu-lintas rezeki itu. Jadi mestinya saya nyantai saja ngga perlu was-was saat shalat jika mendengar telepon berbunyi. Mestinya (logikanya) saya ngga akan rugi apa pun dengan meluangkan waktu sekian menit untuk shalat, memutus diri dari segala hubungan semu duniawi. Bukankah akhirnya tempat bergantung itu hanyalah Dia ash-Shamad?

Tapi karena dasarnya nafsu saya suka menang melawan akal saya, jadinya saya suka lupa bahwa Tuhan itu ash-Shamad. (Jangan buru-buru nyalahin setan, ya. Salahin dulu nafsu kita. Nafsu itu lawannya akal. Kalau akal menang dan menjadi niat atau perbuatan, segalanya insya Allah maslahat. Kalau nafsu menang dan mewujud jadi niat atau perbuatan, gawat.)

Kembali ke soal tunduk (khusyu’) dalam shalat. Saya mau berbagi informasi secara instan saja tentang ‘buat apa kita shalat’, sekadar berbagi motivasi agar semoga kita bisa relatif lebih mudah tunduk (khusyu’) dalam shalat. Saya ulangi, ini INSTAN saja, potong kompas. Kalau mau membahas soal ini secara rinci, panjang banget nanti jadinya. Jadi langsung ke kesimpulan saja (tapi mohon cari penjelasan soal ini lebih rinci dari mana saja di kemudian hari setelah ini).

Buat apa kita shalat? Shalat itu bisa berarti ‘doa’. Secara praktik, shalat adalah rangkaian doa tertentu yang dilakukan dengan cara tertentu sesuai ajaran Tuhan yang diajarkan lewat teladan Nabi SAW. Secara praktik juga, shalat adalah penghambaan dan penyembahan kepada Tuhan. Meskipun shalat itu praktiknya menyembah Tuhan, apa lantas berarti Tuhan butuh kita sembah? Ngga. Yang butuh itu kita, bukan Tuhan. Kita butuh menyembah-Nya. Tuhan ngga butuh kita sembah. Logikanya, kalau ada “Tuhan” yang butuh sesuatu, sudah pasti itu bukan Tuhan. Masa iya Tuhan (yang maha-segalanya), kok, masih butuh?

Buat apa kita shalat? Secara instan, saya berbagi dua hal saja. Lainnya insya Allah bisa dapat sendiri nanti. Pertama: penampilan di akhirat. Ketika terlahir ke dunia dahulu kala, kita ngga bisa milih mau punya wajah rupawan atau buruk rupa, mau berfisik lengkap atau cacat di sana-sini (na’udzu billah). Tapi ketika dibangkitkan di akhirat kelak, kita bisa memilih wujud kita. Shalat adalah kuncinya. Kalau bagus shalat kita, akan baguslah kelak wujud kita di akhirat, insya Allah. kalau buruk kualitas shalat kita, hmm, bayangkan sendiri kayak mana wujud kita kelak.

Maka, tiap kali hendak shalat, mari ingat itu: kita sedang membangun rupa wujud kita sendiri secara spiritual. Kita butuh punya wajah rupawan di akhirat (nah, bukan Tuhan yang butuh shalat kita, tapi kitalah yang butuh bershalat.) Untuk sementara, jangan dulu buru-buru membahas keikhlasan bershalat. Nanti, nanti saja membahas itu kalau sudah “naik kelas”. :) Kapan mau naik kelas dalam hal shalat, ya tentukan sendiri waktunya, targetnya. Sekarang, kita fokus dulu ke soal membikin wajah spiritual ini, berharap semoga dengan motivasi ini, kita terdorong bershalat dengan penuh ketundukan (khusyu’).

Soal wajah spiritual ini mungkin debatable (terbuka untuk diperdebatkan, karena sifatnya pro-kontra). Tapi, terkait hal ini, saya pernah mendengar anjuran untuk berwudhu sebelum ber-ta’ziyah (melayat orang mati). Mengapa? Karena si mayit sejak sekarat (sakaratul maut) sudah dibuka inderanya, dia menjadi kasy-syaaf. Apa yang tadinya tak nampak oleh mata awam, jadi nampak baginya.

Dia (mayit) bisa melihat wujud asli kita, wajah spiritual kita saat di dunia ini. Ada di antara kita yang secara spiritual berwajah monyet, atau anjing, atau serigala, dsb., tergantung perilaku dan akhlak dominan kita. Anjuran berwudhu itu untuk menutupi wajah spiritual kita agar tak terlihat oleh si mayit yang sedang kita jenguk. Kasihan, kan, kalau si mayit (orangtua kita, misalnya) ketakutan saat kita dekati, gara-gara dia lihat wajah kita merupa, misalnya, singa kelaparan siap menerkam? Na’udzubillah.

Yang kedua terkait ‘buat apa kita shalat’ adalah: untuk melatih reflek. Shalat itu ibarat kungfu atau silat atau ilmu bela diri. Saat bertakbir, kita mestinya sedang melatih jurus “Allah Mahabesar”, selain-Nya remeh-temeh ndak penting belaka (termasuk telepon-berduit di atas). Saat sujud, kita mestinya sedang melatih jurus “Allah Mahaluhur”, selain-Nya sudah tentu rendah sehina-hinanya. Saat membaca alfatihah, kita mestinya sedang menanamkan keyakinan logis ke alam bawah sadar kita bahwa bla-bla… dst.

Saya bilang “kita ‘MESTINYA’ sedang”, karena seringnya kita ngga sedang demikian. Bacaan shalat saja kita suka ngga (mau) paham (nah, mestinya kita dahulukan belajar Bahasa Arab dibanding bahasa asing lainnya agar bisa paham apa saja yang kita ucapkan, ikrarkan, saat shalat). Bahkan, meski paham bahasa arab, paham bacaan shalat, benak kita masih sering melantur ke mana-mana, gara-gara “terbiasa” dengan yang kita ucapkan tanpa makna, tanpa kesungguhan mengikrarkannya: omong kosong. :(

Jika latihan kungfu (shalat) kita bagus, reflek kita tentu akan bagus. Reflek ini gunanya untuk menghadapi rutinitas sehari-hari, yang selalu saja setiap saat kita dihadapkan pada berbagai-bagai pilihan (meskipun intinya dua saja: pilih yang maslahat atau yang mafsadat/merusak). Sering, pilihan-pilihan itu harus kita tentukan secara kilat, tanpa sempat berpikir sedikit panjang. Terhadap pilihan-pilihan kilat itu, reflek kitalah yang berperan: segala nilai yang sering kita latih dan tanamkan ke alam bawah sadar kita.

Jika shalat kita konsisten bagus, insya Allah reflek kita pun akan tangkas menangkis provokasi nafsu (lawannya akal). Secara inilah mungkin—saya bilang: mungkin—kita bisa memaknai ayat “shalat itu sungguh-sungguh mampu mencegah kekejian dan kemungkaran” (innash shalaata tanha ‘anil fahsyaa’ wal munkar).

Konsekuensinya, kalau kita dapati orang yang ke-li-hat-an-nya shalatnya rajin, khusyu’, dsb., tetapi masih suka terlihat juga berbuat keji (ghibah, dengki, korupsi, suka menyakiti hati, dsb.), kita bisa mengira-ngira bahwa ada yang salah dengan shalatnya. Maaf, saya tidak sedang mengajak berburuk sangka kepada yang kelihatannya rajin beribadah. Saya hanya sedang menegaskan, bahwa rajinnya shalat atau ibadah itu bukan ukuran kesalihan seseorang. Ukuran kesalihannya adalah akhlaknya, yang semestinya menjadi buah dari kerajinan ibadahnya. Orang salih (saleh) itu sudah pasti akhlaknya bagus.

Jadi, sampai sini kita punya dua motivasi untuk memperbagus kualitas shalat kita: membikin wujud rupawan, dan melatih reflek. Tentu masih ada kepentingan lain terkait shalat, tak cuma dua itu saja.

Sekali lagi, mohon singkirkan dulu untuk sementara hasrat mencapai kondisi ikhlas bershalat (beribadah). Sabar, ya. Semua ada masanya. Nanti, nanti jika telah sekian lama konsisten (istiqamah) mampu menghayati setiap ucapan, ikrar, gerakan, dan keutuhan ritual penghambaan kita dalam shalat, insya Allah (teorinya, lho) akan muncul sendiri itu kondisi ikhlas. Pada satu titik nanti insya Allah akal kita akan malu sendiri: setelah sekian banyak limpahan karunia-Nya, kok kita masih juga meminta yang “engga-engga”; kok masih enggan bershalat dengan serius; dst.

Omong-omong sudah jam berapa ini? Saya belum shalat ‘isya. Halah. []

(Repost dari salah satu grup di Facebook, 4 Februari 2011)

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under islam?, pantulan, tuhan

Ayat Kursi + Tauhid: Lukisan Grafis

Lukisan Grafis “Ayat Kursi & Tauhid (QS. al-Ahad)”

Nuansa warna BISA dipesan jika hendak menyesuaikan dengan warna-tema interior rumah/kantor. Ubah nuansa warna: GRATIS, tanpa biaya tambahan.

HARGA:

Digital Print di atas kanvas, TANPA bingkai dan pigura (dikirim berupa gulungan kanvas) .
- Ukuran (100cm x 100cm): Rp 500.000,-
- Ukuran (80cm x 80cm): Rp 350.000,-
- Ukuran (50cm x 50cm): Rp 250.000,-

Digital Print di atas kanvas, bingkai terpasang, tanpa pigura (dikirim dalam bentuk siap dipajang tetapi TANPA pigura).
- Ukuran (100cm x 100cm): Rp 650.000,-
- Ukuran (80cm x 80cm): Rp 450.000,-
- Ukuran (50cm x 50cm): Rp 350.000,-

Harga TIDAK termasuk ongkos kirim.
Jabodetabek: gratis ongkos kirim.


2 Komentar

Filed under gado-gado, islam?, lukisan grafis, tuhan

Sampul Buku

Sampul buku yang bagus itu, bagi saya, harus bisa langsung (tanpa diubah lagi) dijadikan semacam POSTER: iklan tentang kesatuan pesan yang disampaikan penulis dalam isi bukunya. Begitulah cara saya mendesain sampul. ;)

Penulis buku di atas, Mohammad Monib, meminta saya mendesain satu alternatif sampul untuk dibandingkan dengan yang sudah dibikin penerbit. Saya tanya, kalau-kalau boleh mengganti judulnya agar lebih lugas (dan menjual); serta mengganti warna latar sampul yang khas stereotip Islam itu (hijau bertabur ornamen kaligrafi arab) menjadi lebih ngepop. Dia bersetuju. Maka jadilah judul dan visual sampul seperti di atas, mengganti judul sebelumnya, Pelita Hati Pelita Kemanusiaan.

Tetapi baik judul maupun desain sampul itu akhirnya tak jadi dipakai. Penerbit tidak mau menerima desain dari luar, kata Monib pada Desember tahun lalu. Ya sudah, ngga apa-apa; saya membikinnya lebih karena gemas melihat desain sebelumnya yang stereotip, kok. :)

3 Komentar

Filed under islam?

Berpikir Kritis

Segala pelatihan manajemen dan pengembangan diri itu cuma barang dagangan (komoditas) belaka. Pedagangnya selalu meyakinkan kita bahwa kita memerlukannya. Padahal kita tidak membutuhkannya kalau kita sudi berpikir kritis.

Ceritanya, seorang kawan meminta saya mendesain brosur pelatihan yang hendak diselenggarakannya. Saat menanyakan ini-itu untuk mengira-ngira (assess) apa yang dimauinya dan apa yang perlu dikomunikasikan terkait pelatihannya, saya minta dia menjelaskan metode yang dia gunakan. “Asset-based thinking (ABT),” ujarnya. Sungguh, istilah itu merupakan hal baru bagi saya, karena memang saya kuper dan kurang wawasan tentang hal-hal yang tidak saya geluti. Tapi, saat itu saya manggut-manggut saja, sok mengerti ABT, dan mengalihkan pembicaraan ke hal lainnya. :)

Asset-based thinking/ABT? Anda pun tentu tahu artinya: cara berpikir dengan perhatian utama kepada apa yang kita miliki. Tapi, maksudnya bagaimana? Ketika bertanya kepada Paman Google, dia arahkan saya kepada situs-biangnya, assetbasedthinking.com, yang menyarikan ABT sebagai berikut: “… asset-based thinkers focus on opportunities rather than problems, strengths more than weaknesses, what can be done instead of what can’t“.

Kalau kita mengatasi persoalan dengan cara lebih memerhatikan peluang yang ada dibanding masalah yang kita hadapi, mengutamakan kekuatan yang kita punyai dibanding kelemahan yang menghambat langkah kaki, dan berfokus kepada apa yang dapat kita lakukan dibanding apa yang tak bisa kita perbuat, itu artinya kita sudah menerapkan ABT—asset-based thinking. Oh, sesederhana itukah? Cuma soal berpikir positifkah? Ya. Lalu apa yang baru dari konsep ABT? Secara konsep, menurut saya, tidak ada!

Pandai-pandailah bersyukur; Syukuri apa pun yang kaupunya; Lihatlah ke “bawah”, jangan ke “atas”; la-in syakartum la-aziidannakum….; dan sebagainya. Kita sering mendengar nasihat semacam itu, entah dari kearifan lokal atau agama. Apa bedanya pandai bersyukur dengan ABT? Nyaris sama saja. Kita pun mungkin pernah mendengar ungkapan John Fitzgerald Kennedy, Presiden AS ke-35, “Kita tetap maju dengan apa yang kita punya, kita tetap maju dengan apa yang tidak kita punya.” Apa bedanya kalimat JFK itu dengan ABT? Nyaris tidak berbeda.

Lalu, kenapa ternyata kita masih butuh ABT? (Pelatihan bermetode ABT ini banyak penggemarnya, setidaknya fakta itu saya dapat dari panjangnya daftar klien kawan saya; Belum lagi, setelah mengikuti pelatihan ini—menurut kawan saya—banyak peserta yang menginginkan, kalau ada, pelatihan lanjutannya.) Saya kira, masalahnya terletak pada kemanjaan kita yang lebih nyaman disuapi sepanjang waktu, dan ketidaksudian kita melakukan sendiri apa yang paling kita perlukan: berpikir kritis.

Berpikir kritis itu meletihkan, karena kita “terpaksa” terus-menerus bertanya kepada diri kita sendiri, menimbang berbagai hal, mempertanyakan segala sesuatu. Berpikir kritis itu merisaukan, karena kita tak pernah benar-benar bisa merasakan zona aman—sebab kemapanan kita pun perlu kita pertanyakan. Berpikir kritis itu, pada tahap tertentu, acap menakutkan; karena jawaban dari pertanyaan kita bisa berupa penelanjangan atas diri kita sendiri sebugil-bugilnya: apa/siapa saya sebenarnya, tanpa topeng-topeng sosial yang saya kenakan ganti-berganti setiap hari itu? Apa/siapa saya sebenarnya di hadapan manusia dan Tuhan?

Di atas, saya hanya membahas ABT. Sila ganti ABT itu dengan metode-metode lain, saya yakin semua metode itu tetap tak akan bisa menyelesaikan masalah yang sebenarnya dalam hidup kita. Mengapa? Pertama, karena metode-metode itu lebih bertujuan membikin kita menjadi manusia berhasil (sukses), yang ukuran keberhasilannya adalah pencapaian materi (dan, baiklah, mungkin ketenangan batin, tapi setelah pencapaian materi itu). Kedua, karena metode-metode itu tidak bertujuan membikin kita berpikir kritis.

Kesudian berpikir kritis akan mengantar kita kepada pengenalan diri sendiri seutuhnya, tergantung sejauh mana kita mau dan berani mengenali diri sendiri: kesejatian pribadi kita, kemampuan kita, kekuatan kita, keterbatasan kita, kelemahan kita, ketololan kita, dsb. Lalu, pada gilirannya, berpikir kritis akan mengajak kita menjelajahi masalah (apa saja) yang sedang atau akan kita hadapi, sekaligus berupaya mencari jalan keluarnya secara kritis: berdasarkan fakta pengenalan kita atas diri sendiri dan kondisi nyata yang dihadapi.

Berpikir kritis akan membikin pengamalnya jadi manusia pembelajar yang tak akan berhenti mencari sepanjang hidupnya. Mencari, mempertanyakan, mempelajari segala hal; pembelajaran tak kunjung henti: iqra’! Hidup yang tak dipertanyakan adalah hidup yang tidak layak dijalani, kata Socrates. The unexamined life is not worth living.

Nah, masihkah kita butuh segala pelatihan manajemen dan pengembangan diri itu, kalau kita sudi berpikir kritis? Baiklah kita ubah sedikit pertanyaannya: setelah mengikuti segala pelatihan manajemen dan pengembangan diri itu, lantas apa manfaatnya kalau kita masih tak sudi berpikir kritis?

Dan, ya, berpikir kritis itu bukan perkara mampu atau tak mampu, tapi soal mau atau tak mau. Bagaimana caranya? Duh, masa iya kita perlu ikut Pelatihan Berpikir Kritis, sebagai ganti/tambahan pelatihan manajemen dan pengembangan diri? ;) []

1 Komentar

Filed under gado-gado, islam?, pantulan

Bahasa yang “Sepele” Itu….

mu’kin yg pling tk sy sukai ‘lam b3rk0mnit45 di fbk adlh ksmena2n org sa’t brbhs

Bisa membaca dan lekas memahami kalimat di atas? :p

Mungkin, yang paling tidak saya sukai dalam berkomunitas di Facebook adalah kesemena-menaan orang saat berbahasa. Misalnya, saat menulis status, menanggapi sesuatu, atau saat berdiskusi, tak sedikit orang yang gemar sekali menyingkat-nyingkat tulisan mereka.

Sebenarnya, mereka ini menulis untuk apa? Agar dibaca orangkah? Agar dipahami pesannyakah? Kalau kata-kata dalam kalimatnya disingkat-singkat, apalagi dengan cara menyingkat yang seenaknya, bagaimana orang lain akan paham pesan/maksud yang dilontarkannya?

Namun saya maklum, bisa jadi perilaku itu adalah hal remeh tak penting yang tidak berdampak apa-apa selain lucu-lucuan saja. Cuma “trend sesaat” (halah, anda tahu ini istilah siapa? :p ); kecenderungan (trend) sok lucu, sok imut, sok amit, sok genit, yang dinyatakan lewat cara menulis atau berbahasa; gaya berbahasa yang dipicu maraknya penggunaan ponsel dan SMS.

Tapi benarkah itu hal sepele belaka? Pun tak berakibat apa-apa?

Suatu ketika Konfusius ditanya, apa yang pertama kali akan ia lakukan jika harus mengurus negara. Ia jawab, “Meluruskan bahasa.” Si penanya heran, “Mengapa?”

“Jika bahasa tidak lurus, apa yang dikatakan bisa berbeda dengan apa yang dimaksudkan. Jika yang dikatakan bukan yang dimaksudkan, apa yang seharusnya diperbuat akan tidak terlaksana. Jika yang harus dilaksanakan tak dilakukan, moral dan seni akan merosot. Jika moral dan seni merosot, keadilan akan tidak jelas arahnya. Jika keadilan tak jelas arahnya, rakyat hanya akan bisa bengong tak tertolong. Maka, tidak boleh seenaknya berbahasa. Ini yang paling penting di atas segala-galanya.”)*

Nah, masih menganggap berbahasa (berbincang-bincang, menulis, dsb.) adalah urusan remeh-temeh saja? Urusan yang bisa dilakukan dengan seenaknya (anarkis)?

Hemat saya, kita semua dapat ikut serta memulihkan kejayaan Republik Indonesia kita ini dengan salah satu cara gampang. Yaitu, mari menulis apa pun dengan sepantasnya; mari berbahasa dengan baik dan benar. Apa ini berarti kita perlu jadi manusia membosankan yang berbahasa baku sepanjang waktu?

Berbahasa dengan “baik dan benar”, semestinya berarti kita selalu berempati kepada lawan bicara kita, pembaca tulisan/pesan kita: pahamkah dia/mereka apa yang saya maksudkan, jika saya pakai istilah ini, menyingkat kata itu, dsb.?

Omong-omong, pahamkah anda dengan apa yang dipidatokan Presiden kita beberapa waktu lalu? ;)

===
)* If language is not correct, then what is said is not what is meant; if what is said is not what is meant, then what must be done remains undone; if this remains undone, morals and art will deteriorate; if justice goes astray, the people will stand about in helpless confusion. Hence there must be no arbitrariness in what is said. This matters above everything. —William L. Rivers & Clive Mathews, Ethics for the Media

2 Komentar

Filed under gado-gado, pantulan

the tragreedy continues: may 29, 2009

lapindo-tragreedy

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under gado-gado, lingkungan

masalahrumah-dot-com

Konsumen Rumah Seluruh “Dunia”: Bersatulah!

Mulanya adalah kesebalan tak tertahankan atas kebebalan pengembang (developer) perumahan/property. Klise sekali cerita ini: janji-janji muluk pemasaran jadi umpan; keluhan konsumen rumah disepelekan; pengembang bersikap jumawa karena merasa produknya pasti tetap laku diserbu calon pembeli, bahkan meski dicerca sana-sini oleh yang sudah terlanjur membeli; lalu, di akhir cerita, tak hanya merugi, konsumen merasa makan hati—dan si pengembang tetap melenggang nyaman meneruskan hidup mengeruk untung melanjutkan jual-beli. Beuh!

Mengapa bergunung keluhan konsumen rumah tak kunjung mampu memaksa pihak pengembang memperbaiki layanan? Bukankah keluhan-keluhan itu banyak tersebar di halaman-halaman media cetak ternama? Tunggu, agaknya ini kata kuncinya: ter-se-bar. Karena tersebar, berserakan di mana-mana, lemahlah daya “pukul”-nya. Coba kalau disatukan di satu media yang hanya memuat keluhan terhadap pengembang perumahan!

Jika semua keluhan itu terkumpul di satu media yang dapat diakses siapa saja (katakanlah, calon konsumen) dengan mudahnya, tentu tingkah-polah para pengembang akan begitu gamblang disaksikan banyak orang. Tentu baik-buruk layanan mereka akan mudah diteliti dan dicermati. Tentu rekam jejak mereka akan gampang sangat dilacak. Lalu dengan sendirinya media-keluhan itu akan menjadi panduan akurat untuk membeli rumah—yang berarti memilih pengembang yang tidak menyebalkan—bagi para calon konsumen property.

Sampai titik itu, calon konsumen rumah diuntungkan karena dihadiahi panduan yang dapat mengarahkan mereka agar tak sempat dicurangi pengembang. Lantas, apa keuntungan bagi si konsumen penyampai keluhan?

Karena media itu “diawasi” calon-calon pembeli, mau tak mau pihak pengembang (yang cerdas) akan sepenuh hati menangani keluh-kesah para konsumen. Sebab, citra lembaga mereka dipertaruhkan di setiap kasus keluhan yang mereka terima. Sekali saja kesan durjana menodai bendera usaha mereka, akan sulit setengah mampus menghapusnya.

Singkat cerita, akhirnya para pengembang perumahan/property pun akan “terpaksa” membenahi diri, berlomba menyuguhkan layanan terbaik mereka, dan akan bertimbang berjuta kali untuk bertingkah mencurangi. Itu semua akan mungkin sekali terjadi jika “semua” keluhan konsumen rumah/property terkumpul di satu media—tak tersebar berserakan di mana-mana.

Nah, mimpi-mimpi indah itu akankah terjadi? Konsumen (rumah), akankah benar-benar menjadi raja? Tunggu saja, atau mari buktikan bersama-sama. Situs masalahrumah-dot-com baru sehari umurnya; jalan masih panjang menuju ke Sana—S kapital. []

NB. Omong-omong, ada yang berminat membikin supermarketwatch-dot-com, atau situs-situs serupa buat konsumen-konsumen produk lainnya? :)

logo-masalahrumah-wp


Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under gado-gado

gantian

INT. KAMAR MANDI/WC SEBUAH RUMAH — SORE.
Pintu kamar mandi/WC setengah terbuka, lampunya menyala. Seorang anak laki-laki lima tahunan duduk di atas closet.

Anak:
“Ayaah, sudaaah!”

OS. Ayah:
“Iyaaa.”

Si ayah datang, melongok ke dalam WC. Pintu makin lebar terbuka.

CLOSE UP tampang Ayah yang kesal karena terusik dari keasyikannya.

Ayah:
“Emang kenapa?!”

CLOSE UP wajah tak berdosa si anak.

Anak:
“Udah. Cebokin.”

Ayah (siap-siap marah):
“Lho, kan udah bisa cebok sendiri? Kemarin bisa, kan?”

Anak (tampang bingung, cari-cari alasan):
“Iya. Gantian, dong. Kemarin cebok sendiri.”

Ayah (terpaksa tertawa):
“Haha, enak aja gantian. Emang itu pantat siapa?”

Anak (sekarang berani merengek karena si ayah tertawa):
“Gantian, cebokin.”

MED. SHOT Ayah masuk WC, bersiap menceboki si anak.

Ayah:
“Oke, lain kali cebok sendiri, ya; dan ingat, tiap kali e’ek, cebok sendiri. Oke?”

Anak (menjawab sekenanya):
“Iyaaa.”

CUT TO.

INT. RUANG KELUARGA SEBUAH RUMAH — MALAM.
Sekeluarga sedang menonton film di televisi. Tiba-tiba si anak laki-laki berlari meninggalkan ruang keluarga, sambil tergesa-gesa berusaha mencopot celananya.

Ayah (berteriak, matanya tetap ke televisi):
“Aliiiii.”

OS. Anak (juga berteriak):
“IYAA, CEBOK SENDIRI!” []

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under kanak-kanak