h1

Bahasa yang “Sepele” Itu….

Desember 2, 2009

mu’kin yg pling tk sy sukai ‘lam b3rk0mnit45 di fbk adlh ksmena2n org sa’t brbhs

Bisa membaca dan lekas memahami kalimat di atas? :p

Mungkin, yang paling tidak saya sukai dalam berkomunitas di Facebook adalah kesemena-menaan orang saat berbahasa. Misalnya, saat menulis status, menanggapi sesuatu, atau saat berdiskusi, tak sedikit orang yang gemar sekali menyingkat-nyingkat tulisan mereka.

Sebenarnya, mereka ini menulis untuk apa? Agar dibaca orangkah? Agar dipahami pesannyakah? Kalau kata-kata dalam kalimatnya disingkat-singkat, apalagi dengan cara menyingkat yang seenaknya, bagaimana orang lain akan paham pesan/maksud yang dilontarkannya?

Namun saya maklum, bisa jadi perilaku itu adalah hal remeh tak penting yang tidak berdampak apa-apa selain lucu-lucuan saja. Cuma “trend sesaat” (halah, anda tahu ini istilah siapa? :p ); kecenderungan (trend) sok lucu, sok imut, sok amit, sok genit, yang dinyatakan lewat cara menulis atau berbahasa; gaya berbahasa yang dipicu maraknya penggunaan ponsel dan SMS.

Tapi benarkah itu hal sepele belaka? Pun tak berakibat apa-apa?

Suatu ketika Konfusius ditanya, apa yang pertama kali akan ia lakukan jika harus mengurus negara. Ia jawab, “Meluruskan bahasa.” Si penanya heran, “Mengapa?”

“Jika bahasa tidak lurus, apa yang dikatakan bisa berbeda dengan apa yang dimaksudkan. Jika yang dikatakan bukan yang dimaksudkan, apa yang seharusnya diperbuat akan tidak terlaksana. Jika yang harus dilaksanakan tak dilakukan, moral dan seni akan merosot. Jika moral dan seni merosot, keadilan akan tidak jelas arahnya. Jika keadilan tak jelas arahnya, rakyat hanya akan bisa bengong tak tertolong. Maka, tidak boleh seenaknya berbahasa. Ini yang paling penting di atas segala-galanya.”)*

Nah, masih menganggap berbahasa (berbincang-bincang, menulis, dsb.) adalah urusan remeh-temeh saja? Urusan yang bisa dilakukan dengan seenaknya (anarkis)?

Hemat saya, kita semua dapat ikut serta memulihkan kejayaan Republik Indonesia kita ini dengan salah satu cara gampang. Yaitu, mari menulis apa pun dengan sepantasnya; mari berbahasa dengan baik dan benar. Apa ini berarti kita perlu jadi manusia membosankan yang berbahasa baku sepanjang waktu?

Berbahasa dengan “baik dan benar”, semestinya berarti kita selalu berempati kepada lawan bicara kita, pembaca tulisan/pesan kita: pahamkah dia/mereka apa yang saya maksudkan, jika saya pakai istilah ini, menyingkat kata itu, dsb.?

Omong-omong, pahamkah anda dengan apa yang dipidatokan Presiden kita beberapa waktu lalu? ;)

===
)* If language is not correct, then what is said is not what is meant; if what is said is not what is meant, then what must be done remains undone; if this remains undone, morals and art will deteriorate; if justice goes astray, the people will stand about in helpless confusion. Hence there must be no arbitrariness in what is said. This matters above everything. —William L. Rivers & Clive Mathews, Ethics for the Media

h1

the tragreedy continues: may 29, 2009

Mei 28, 2009

lapindo-tragreedy

h1

masalahrumah-dot-com

Mei 6, 2009

Konsumen Rumah Seluruh “Dunia”: Bersatulah!

Mulanya adalah kesebalan tak tertahankan atas kebebalan pengembang (developer) perumahan/property. Klise sekali cerita ini: janji-janji muluk pemasaran jadi umpan; keluhan konsumen rumah disepelekan; pengembang bersikap jumawa karena merasa produknya pasti tetap laku diserbu calon pembeli, bahkan meski dicerca sana-sini oleh yang sudah terlanjur membeli; lalu, di akhir cerita, tak hanya merugi, konsumen merasa makan hati—dan si pengembang tetap melenggang nyaman meneruskan hidup mengeruk untung melanjutkan jual-beli. Beuh!

Mengapa bergunung keluhan konsumen rumah tak kunjung mampu memaksa pihak pengembang memperbaiki layanan? Bukankah keluhan-keluhan itu banyak tersebar di halaman-halaman media cetak ternama? Tunggu, agaknya ini kata kuncinya: ter-se-bar. Karena tersebar, berserakan di mana-mana, lemahlah daya “pukul”-nya. Coba kalau disatukan di satu media yang hanya memuat keluhan terhadap pengembang perumahan!

Jika semua keluhan itu terkumpul di satu media yang dapat diakses siapa saja (katakanlah, calon konsumen) dengan mudahnya, tentu tingkah-polah para pengembang akan begitu gamblang disaksikan banyak orang. Tentu baik-buruk layanan mereka akan mudah diteliti dan dicermati. Tentu rekam jejak mereka akan gampang sangat dilacak. Lalu dengan sendirinya media-keluhan itu akan menjadi panduan akurat untuk membeli rumah—yang berarti memilih pengembang yang tidak menyebalkan—bagi para calon konsumen property.

Sampai titik itu, calon konsumen rumah diuntungkan karena dihadiahi panduan yang dapat mengarahkan mereka agar tak sempat dicurangi pengembang. Lantas, apa keuntungan bagi si konsumen penyampai keluhan?

Karena media itu “diawasi” calon-calon pembeli, mau tak mau pihak pengembang (yang cerdas) akan sepenuh hati menangani keluh-kesah para konsumen. Sebab, citra lembaga mereka dipertaruhkan di setiap kasus keluhan yang mereka terima. Sekali saja kesan durjana menodai bendera usaha mereka, akan sulit setengah mampus menghapusnya.

Singkat cerita, akhirnya para pengembang perumahan/property pun akan “terpaksa” membenahi diri, berlomba menyuguhkan layanan terbaik mereka, dan akan bertimbang berjuta kali untuk bertingkah mencurangi. Itu semua akan mungkin sekali terjadi jika “semua” keluhan konsumen rumah/property terkumpul di satu media—tak tersebar berserakan di mana-mana.

Nah, mimpi-mimpi indah itu akankah terjadi? Konsumen (rumah), akankah benar-benar menjadi raja? Tunggu saja, atau mari buktikan bersama-sama. Situs masalahrumah-dot-com baru sehari umurnya; jalan masih panjang menuju ke Sana—S kapital. []

NB. Omong-omong, ada yang berminat membikin supermarketwatch-dot-com, atau situs-situs serupa buat konsumen-konsumen produk lainnya? :)

logo-masalahrumah-wp


h1

gantian

April 23, 2009

INT. KAMAR MANDI/WC SEBUAH RUMAH — SORE.
Pintu kamar mandi/WC setengah terbuka, lampunya menyala. Seorang anak laki-laki lima tahunan duduk di atas closet.

Anak:
“Ayaah, sudaaah!”

OS. Ayah:
“Iyaaa.”

Si ayah datang, melongok ke dalam WC. Pintu makin lebar terbuka.

CLOSE UP tampang Ayah yang kesal karena terusik dari keasyikannya.

Ayah:
“Emang kenapa?!”

CLOSE UP wajah tak berdosa si anak.

Anak:
“Udah. Cebokin.”

Ayah (siap-siap marah):
“Lho, kan udah bisa cebok sendiri? Kemarin bisa, kan?”

Anak (tampang bingung, cari-cari alasan):
“Iya. Gantian, dong. Kemarin cebok sendiri.”

Ayah (terpaksa tertawa):
“Haha, enak aja gantian. Emang itu pantat siapa?”

Anak (sekarang berani merengek karena si ayah tertawa):
“Gantian, cebokin.”

MED. SHOT Ayah masuk WC, bersiap menceboki si anak.

Ayah:
“Oke, lain kali cebok sendiri, ya; dan ingat, tiap kali e’ek, cebok sendiri. Oke?”

Anak (menjawab sekenanya):
“Iyaaa.”

CUT TO.

INT. RUANG KELUARGA SEBUAH RUMAH — MALAM.
Sekeluarga sedang menonton film di televisi. Tiba-tiba si anak laki-laki berlari meninggalkan ruang keluarga, sambil tergesa-gesa berusaha mencopot celananya.

Ayah (berteriak, matanya tetap ke televisi):
“Aliiiii.”

OS. Anak (juga berteriak):
“IYAA, CEBOK SENDIRI!” []

h1

susu pembangunan

April 7, 2009

susugolput

h1

:

September 29, 2008

h1

tissue

Desember 6, 2007

tissue-box cover, thegreenhead dotcomMalam itu saya diundang teman ke restoran sebuah hotel di Banda Aceh. Setelah menyelesaikan makan malamnya, teman saya spontan mengelap bibirnya dengan tissue kertas yang tersedia di meja. Kemudian diremasnya tissue itu dan berniat membuangnya. Tapi tiba-tiba niatnya urung. Spontan ia berujar, “Segede ini cuma buat begini doang?” Ia memandangi tissue tebal di genggamannya dengan tatapan tak tentu: mungkin merasa bersalah, mungkin juga tak peduli, “Berapa pohon, ini, dipakai (untuk membuatnya)?” Kertas tipis lagi lembut itu kira-kira berukuran 40 cm x 40 cm—empat kali ukuran tissue “biasa”; tersusun dari tiga rangkap kertas, bukan cuma dua.

Kertas (tissue, misalnya), plastik, dan deterjen (sabun cuci, sampo[?], pasta gigi[?]), telah menjadi bagian penting dari kehidupan kita sehari-hari. Sulit, bukan, membayangkan hidup tanpa plastik, kertas, dan deterjen? Sedemikian akrabnya kita dengan benda-benda itu, sehingga kita merasa wajar dan lumrah saja menggunakannya tanpa mempertimbangkan dampak buruknya bagi kita. Atau, sebenarnya kita mengerti betul dampaknya, tapi tak berniat memikirkannya lebih jauh karena kita anggap itu harga wajar yang harus dibayar untuk suatu hal yang sangat “wajar”.

Kertas dibuat dari pohon. Berapa batang pohon (dalam bentuk tissue, kertas HVS, dsb.) yang ramai-ramai kita “tebang” setiap hari, setiap bulan, setiap tahun? Berapa banyak sampah plastik yang kita buang setiap saat, yang berpotensi merusak kesuburan tanah karena sulit diurai?

Baiklah, untuk mengurangi penebangan pohon, kita perlu membawa saputangan ke mana-mana sebagai pengganti kertas tissue. Juga, lebih baik kita gunakan piring dan gelas kaca untuk hajatan daripada memakai piring dan gelas plastik. Tapi, saputangan dan piring/gelas kaca harus dicuci agar bisa digunakan lagi. Untuk mencucinya, perlu deterjen. Nah, akibatnya, kita akan menambah volume limbah deterjen di sungai-sungai, yang ujungnya akan memperburuk kualitas air. Repot, ya? :)

—luengbata, 6 desember 2007

h1

the only stupid question

Desember 3, 2007

bertanyalah

h1

Oktober 26, 2007

belum sejenak beranjak
sudah aku merindumu.
tahulah hati ke mana cenderung
keindahan bersamamu kauusung.

nb: usahain tiap hari sedekah, sayang, meski cuma seribu. [x]

h1

balon kembang sepatu

Agustus 4, 2007

mainbalon-tiupSejak lama saya ingin tahu, terbikin dari apakah cairan bahan balon-busa-sabun, mainan kanak-kanak, yang sekali tiup dapat memunculkan puluhan balon itu. Sampai kemudian ada yang memberitahu saya rahasianya: kembang sepatu. Maka sore itu saya ajak anak saya memetik beberapa helai daunnya dari sekitar tempat kami tinggal.

Daun-daun itu kami masukkan ke dalam air di baskom. Kami remas-remas sampai hancur, kami peras agar lendirnya keluar dan bercampur dengan air.

mainbalon-ramu“Geli, ayah. Jijik,” kata anak saya. Saya tertawa maklum ketika manusia kecil di depan saya ini bergegas mengentaskan tangannya dari baskom. “Katanya mau jadi Si Bolang,” ujar saya.

Air berlendir kental daun kembang sepatu yang mirip minyak goreng itu kami saring, lalu sejumput bubuk deterjen kami masukkan ke dalamnya. Kun, fayakun. Jadilah, maka terjadilah :)

Anak saya mendadak lupa akan rasa jijiknya. Diambilnya alat tiup yang telah kami bikin sebelumnya, lalu segera asyik bermain balon-busa-sabun di pelataran. Adiknya, yang baru bangun tidur siang, tak mau ketinggalan. Belakangan, teman-temannya ikut mengambil bagian. Itu setelah teguran dari ibunya, “Ali, ngga boleh pelit, doong!”

Bahagianya! Terima kasih, kang Yulian. [x]

mainbalon.jpg

ALAT TIUP

Idealnya, mungkin, alat tiup balon ini dibikin dari lingkaran kawat kecil yang dibalut benang wol, lalu diberi gagang bambu seukuran tusuk sate. Saya membikinnya dari sisa, apa-tuh-namanya, cantolan tirai jendela, yang saya balut dengan tali bekas celana pendek. Satu lagi (buat adik) saya balut dengan sobekan kain perca. Prinsipnya, baik benang wol atau kain perca, dapat “menambat” cairan. Sebagai gagangnya, saya gunakan sumpit kayu bekas.

mainbalon-alat-tiup.jpg

TIP: Jika melibatkan anak-anak dalam proses, dahulukan membikin alat tiupnya sebelum meramu cairan daun kembang sepatu dan deterjen/sabun cuci. Tapi jika melibatkan anak-anak yang dapat diminta “duduk manis” selama proses berlangsung, sila abaikan tip ini.

—depok, 4 agustus 2007