mu’kin yg pling tk sy sukai ‘lam b3rk0mnit45 di fbk adlh ksmena2n org sa’t brbhs
Bisa membaca dan lekas memahami kalimat di atas? :p
Mungkin, yang paling tidak saya sukai dalam berkomunitas di Facebook adalah kesemena-menaan orang saat berbahasa. Misalnya, saat menulis status, menanggapi sesuatu, atau saat berdiskusi, tak sedikit orang yang gemar sekali menyingkat-nyingkat tulisan mereka.
Sebenarnya, mereka ini menulis untuk apa? Agar dibaca orangkah? Agar dipahami pesannyakah? Kalau kata-kata dalam kalimatnya disingkat-singkat, apalagi dengan cara menyingkat yang seenaknya, bagaimana orang lain akan paham pesan/maksud yang dilontarkannya?
Namun saya maklum, bisa jadi perilaku itu adalah hal remeh tak penting yang tidak berdampak apa-apa selain lucu-lucuan saja. Cuma “trend sesaat” (halah, anda tahu ini istilah siapa? :p ); kecenderungan (trend) sok lucu, sok imut, sok amit, sok genit, yang dinyatakan lewat cara menulis atau berbahasa; gaya berbahasa yang dipicu maraknya penggunaan ponsel dan SMS.
Tapi benarkah itu hal sepele belaka? Pun tak berakibat apa-apa?
Suatu ketika Konfusius ditanya, apa yang pertama kali akan ia lakukan jika harus mengurus negara. Ia jawab, “Meluruskan bahasa.” Si penanya heran, “Mengapa?”
“Jika bahasa tidak lurus, apa yang dikatakan bisa berbeda dengan apa yang dimaksudkan. Jika yang dikatakan bukan yang dimaksudkan, apa yang seharusnya diperbuat akan tidak terlaksana. Jika yang harus dilaksanakan tak dilakukan, moral dan seni akan merosot. Jika moral dan seni merosot, keadilan akan tidak jelas arahnya. Jika keadilan tak jelas arahnya, rakyat hanya akan bisa bengong tak tertolong. Maka, tidak boleh seenaknya berbahasa. Ini yang paling penting di atas segala-galanya.”)*
Nah, masih menganggap berbahasa (berbincang-bincang, menulis, dsb.) adalah urusan remeh-temeh saja? Urusan yang bisa dilakukan dengan seenaknya (anarkis)?
Hemat saya, kita semua dapat ikut serta memulihkan kejayaan Republik Indonesia kita ini dengan salah satu cara gampang. Yaitu, mari menulis apa pun dengan sepantasnya; mari berbahasa dengan baik dan benar. Apa ini berarti kita perlu jadi manusia membosankan yang berbahasa baku sepanjang waktu?
Berbahasa dengan “baik dan benar”, semestinya berarti kita selalu berempati kepada lawan bicara kita, pembaca tulisan/pesan kita: pahamkah dia/mereka apa yang saya maksudkan, jika saya pakai istilah ini, menyingkat kata itu, dsb.?
Omong-omong, pahamkah anda dengan apa yang dipidatokan Presiden kita beberapa waktu lalu?
===
)* If language is not correct, then what is said is not what is meant; if what is said is not what is meant, then what must be done remains undone; if this remains undone, morals and art will deteriorate; if justice goes astray, the people will stand about in helpless confusion. Hence there must be no arbitrariness in what is said. This matters above everything. —William L. Rivers & Clive Mathews, Ethics for the Media






Sejak lama saya ingin tahu, terbikin dari apakah cairan bahan balon-busa-sabun, mainan kanak-kanak, yang sekali tiup dapat memunculkan puluhan balon itu. Sampai kemudian ada yang
“Geli, ayah. Jijik,” kata anak saya. Saya tertawa maklum ketika manusia kecil di depan saya ini bergegas mengentaskan tangannya dari baskom. “Katanya mau jadi 

