

masalahrumah-dot-com
Mei 6, 2009Konsumen Rumah Seluruh “Dunia”: Bersatulah!
Mulanya adalah kesebalan tak tertahankan atas kebebalan pengembang (developer) perumahan/property. Klise sekali cerita ini: janji-janji muluk pemasaran jadi umpan; keluhan konsumen rumah disepelekan; pengembang bersikap jumawa karena merasa produknya pasti tetap laku diserbu calon pembeli, bahkan meski dicerca sana-sini oleh yang sudah terlanjur membeli; lalu, di akhir cerita, tak hanya merugi, konsumen merasa makan hati—dan si pengembang tetap melenggang nyaman meneruskan hidup mengeruk untung melanjutkan jual-beli. Beuh!
Mengapa bergunung keluhan konsumen rumah tak kunjung mampu memaksa pihak pengembang memperbaiki layanan? Bukankah keluhan-keluhan itu banyak tersebar di halaman-halaman media cetak ternama? Tunggu, agaknya ini kata kuncinya: ter-se-bar. Karena tersebar, berserakan di mana-mana, lemahlah daya “pukul”-nya. Coba kalau disatukan di satu media yang hanya memuat keluhan terhadap pengembang perumahan!
Jika semua keluhan itu terkumpul di satu media yang dapat diakses siapa saja (katakanlah, calon konsumen) dengan mudahnya, tentu tingkah-polah para pengembang akan begitu gamblang disaksikan banyak orang. Tentu baik-buruk layanan mereka akan mudah diteliti dan dicermati. Tentu rekam jejak mereka akan gampang sangat dilacak. Lalu dengan sendirinya media-keluhan itu akan menjadi panduan akurat untuk membeli rumah—yang berarti memilih pengembang yang tidak menyebalkan—bagi para calon konsumen property.
Sampai titik itu, calon konsumen rumah diuntungkan karena dihadiahi panduan yang dapat mengarahkan mereka agar tak sempat dicurangi pengembang. Lantas, apa keuntungan bagi si konsumen penyampai keluhan?
Karena media itu “diawasi” calon-calon pembeli, mau tak mau pihak pengembang (yang cerdas) akan sepenuh hati menangani keluh-kesah para konsumen. Sebab, citra lembaga mereka dipertaruhkan di setiap kasus keluhan yang mereka terima. Sekali saja kesan durjana menodai bendera usaha mereka, akan sulit setengah mampus menghapusnya.
Singkat cerita, akhirnya para pengembang perumahan/property pun akan “terpaksa” membenahi diri, berlomba menyuguhkan layanan terbaik mereka, dan akan bertimbang berjuta kali untuk bertingkah mencurangi. Itu semua akan mungkin sekali terjadi jika “semua” keluhan konsumen rumah/property terkumpul di satu media—tak tersebar berserakan di mana-mana.
Nah, mimpi-mimpi indah itu akankah terjadi? Konsumen (rumah), akankah benar-benar menjadi raja? Tunggu saja, atau mari buktikan bersama-sama. Situs masalahrumah-dot-com baru sehari umurnya; jalan masih panjang menuju ke Sana—S kapital. []
NB. Omong-omong, ada yang berminat membikin supermarketwatch-dot-com, atau situs-situs serupa buat konsumen-konsumen produk lainnya?


gantian
April 23, 2009INT. KAMAR MANDI/WC SEBUAH RUMAH — SORE.
Pintu kamar mandi/WC setengah terbuka, lampunya menyala. Seorang anak laki-laki lima tahunan duduk di atas closet.
Anak:
“Ayaah, sudaaah!”
OS. Ayah:
“Iyaaa.”
Si ayah datang, melongok ke dalam WC. Pintu makin lebar terbuka.
CLOSE UP tampang Ayah yang kesal karena terusik dari keasyikannya.
Ayah:
“Emang kenapa?!”
CLOSE UP wajah tak berdosa si anak.
Anak:
“Udah. Cebokin.”
Ayah (siap-siap marah):
“Lho, kan udah bisa cebok sendiri? Kemarin bisa, kan?”
Anak (tampang bingung, cari-cari alasan):
“Iya. Gantian, dong. Kemarin cebok sendiri.”
Ayah (terpaksa tertawa):
“Haha, enak aja gantian. Emang itu pantat siapa?”
Anak (sekarang berani merengek karena si ayah tertawa):
“Gantian, cebokin.”
MED. SHOT Ayah masuk WC, bersiap menceboki si anak.
Ayah:
“Oke, lain kali cebok sendiri, ya; dan ingat, tiap kali e’ek, cebok sendiri. Oke?”
Anak (menjawab sekenanya):
“Iyaaa.”
CUT TO.
INT. RUANG KELUARGA SEBUAH RUMAH — MALAM.
Sekeluarga sedang menonton film di televisi. Tiba-tiba si anak laki-laki berlari meninggalkan ruang keluarga, sambil tergesa-gesa berusaha mencopot celananya.
Ayah (berteriak, matanya tetap ke televisi):
“Aliiiii.”
OS. Anak (juga berteriak):
“IYAA, CEBOK SENDIRI!” []

tissue
Desember 6, 2007
Malam itu saya diundang teman ke restoran sebuah hotel di Banda Aceh. Setelah menyelesaikan makan malamnya, teman saya spontan mengelap bibirnya dengan tissue kertas yang tersedia di meja. Kemudian diremasnya tissue itu dan berniat membuangnya. Tapi tiba-tiba niatnya urung. Spontan ia berujar, “Segede ini cuma buat begini doang?” Ia memandangi tissue tebal di genggamannya dengan tatapan tak tentu: mungkin merasa bersalah, mungkin juga tak peduli, “Berapa pohon, ini, dipakai (untuk membuatnya)?” Kertas tipis lagi lembut itu kira-kira berukuran 40 cm x 40 cm—empat kali ukuran tissue “biasa”; tersusun dari tiga rangkap kertas, bukan cuma dua.
Kertas (tissue, misalnya), plastik, dan deterjen (sabun cuci, sampo[?], pasta gigi[?]), telah menjadi bagian penting dari kehidupan kita sehari-hari. Sulit, bukan, membayangkan hidup tanpa plastik, kertas, dan deterjen? Sedemikian akrabnya kita dengan benda-benda itu, sehingga kita merasa wajar dan lumrah saja menggunakannya tanpa mempertimbangkan dampak buruknya bagi kita. Atau, sebenarnya kita mengerti betul dampaknya, tapi tak berniat memikirkannya lebih jauh karena kita anggap itu harga wajar yang harus dibayar untuk suatu hal yang sangat “wajar”.
Kertas dibuat dari pohon. Berapa batang pohon (dalam bentuk tissue, kertas HVS, dsb.) yang ramai-ramai kita “tebang” setiap hari, setiap bulan, setiap tahun? Berapa banyak sampah plastik yang kita buang setiap saat, yang berpotensi merusak kesuburan tanah karena sulit diurai?
Baiklah, untuk mengurangi penebangan pohon, kita perlu membawa saputangan ke mana-mana sebagai pengganti kertas tissue. Juga, lebih baik kita gunakan piring dan gelas kaca untuk hajatan daripada memakai piring dan gelas plastik. Tapi, saputangan dan piring/gelas kaca harus dicuci agar bisa digunakan lagi. Untuk mencucinya, perlu deterjen. Nah, akibatnya, kita akan menambah volume limbah deterjen di sungai-sungai, yang ujungnya akan memperburuk kualitas air. Repot, ya?
—luengbata, 6 desember 2007

–
Oktober 26, 2007belum sejenak beranjak
sudah aku merindumu.
tahulah hati ke mana cenderung
keindahan bersamamu kauusung.
nb: usahain tiap hari sedekah, sayang, meski cuma seribu. [x]

balon kembang sepatu
Agustus 4, 2007
Sejak lama saya ingin tahu, terbikin dari apakah cairan bahan balon-busa-sabun, mainan kanak-kanak, yang sekali tiup dapat memunculkan puluhan balon itu. Sampai kemudian ada yang memberitahu saya rahasianya: kembang sepatu. Maka sore itu saya ajak anak saya memetik beberapa helai daunnya dari sekitar tempat kami tinggal.
Daun-daun itu kami masukkan ke dalam air di baskom. Kami remas-remas sampai hancur, kami peras agar lendirnya keluar dan bercampur dengan air.
“Geli, ayah. Jijik,” kata anak saya. Saya tertawa maklum ketika manusia kecil di depan saya ini bergegas mengentaskan tangannya dari baskom. “Katanya mau jadi Si Bolang,” ujar saya.
Air berlendir kental daun kembang sepatu yang mirip minyak goreng itu kami saring, lalu sejumput bubuk deterjen kami masukkan ke dalamnya. Kun, fayakun. Jadilah, maka terjadilah
Anak saya mendadak lupa akan rasa jijiknya. Diambilnya alat tiup yang telah kami bikin sebelumnya, lalu segera asyik bermain balon-busa-sabun di pelataran. Adiknya, yang baru bangun tidur siang, tak mau ketinggalan. Belakangan, teman-temannya ikut mengambil bagian. Itu setelah teguran dari ibunya, “Ali, ngga boleh pelit, doong!”
Bahagianya! Terima kasih, kang Yulian. [x]

ALAT TIUP
Idealnya, mungkin, alat tiup balon ini dibikin dari lingkaran kawat kecil yang dibalut benang wol, lalu diberi gagang bambu seukuran tusuk sate. Saya membikinnya dari sisa, apa-tuh-namanya, cantolan tirai jendela, yang saya balut dengan tali bekas celana pendek. Satu lagi (buat adik) saya balut dengan sobekan kain perca. Prinsipnya, baik benang wol atau kain perca, dapat “menambat” cairan. Sebagai gagangnya, saya gunakan sumpit kayu bekas.

TIP: Jika melibatkan anak-anak dalam proses, dahulukan membikin alat tiupnya sebelum meramu cairan daun kembang sepatu dan deterjen/sabun cuci. Tapi jika melibatkan anak-anak yang dapat diminta “duduk manis” selama proses berlangsung, sila abaikan tip ini.
—depok, 4 agustus 2007

Palang Pintu, Adat Betawi
Juli 9, 2007Saya sering menghindar jika diminta merancang grafis undangan pernikahan. Bagi saya, itu pekerjaan sulit, sebab urusannya terlalu personal. Padahal banyak tantangan kreatif dalam prosesnya. Apa lagi jika low budget: bagaimana caranya membuat undangan yang biaya cetaknya murah meriah dengan tampilan berkelas. Pret! Ukuran “berkelas” ini relatif betul—dan sok sekali.
Nah, ketika kawan “sepermainan” saya, Ade Munadi, meminta saya mendesain undangan pernikahan adiknya, saya tak bisa berkelit. Ampuun, De
Sehari-dua kemudian, jadilah undangan di samping ini, setelah berkompromi (wah, banyak sekali komprominya) dengannya soal bentuk, corak, dan sebagainya.
Yeah, jadinya undangan generik, tidak khas. Pribadi Putri dan Adit, sang calon pengantin, pun hanya “menempel” di visual undangan, tak sempat memberi nafas. Tak apalah.
Bagaimana pun, saya masih sempat “menyusupkan” opini saya soal jodoh “bukan” di tangan Tuhan dalam undangan itu:
[halaman depan]
bahagia yang kaucari
ada di sini, kau dan aku
mari beranjak menyempit jarak
kebersamaan adalah pilihan
bukan takdir paksaan
sayangku, Tuhan menunggu
kesepakatan kitalah ketetapan-Nya
mari jelajahi angkasa Cinta
Cahaya Maha Cahaya
semoga Dia himpunkan kau dan aku
di kampung-Nya, di samping-Nya
senantiasa, selamanya.
===
[halaman belakang]
enyahkan pohon penghalang pandangan
coba lihat jauh lebih ke dalam: betapa luasnya hutan
betapa keragaman adalah fitrah dan keniscayaan
prasetia suci yang kauucap hari ini
bukan simpul tali mengikat leluasa diri
hanyalah jalinan kesepakatan, sebab hidup perlu aturan
pernikahan itu membebaskan, melapangkan jalan kepada Tujuan
kitalah buluh perindu yang mendamba Rumpun Bambu
mari bergerak, sayangku, tak henti merentak.
PALANG PINTU
Ketika membincangkan rencana alur acara pernikahan, guna menyusun panduan acara, saya dapati hal menarik yang menurut saya langka. Yaitu prosesi pernikahan adat Betawi, palang pintu. Kira-kira alurnya begini:
Keluarga calon pengantin pria mendatangi rumah calon pengantin perempuan, dipimpin seorang jawara (ya, jawara!). Si jawara mengetuk pintu rumah. Pintu pun dibuka. Yang membuka juga jawara—yang ini jawara dari pihak perempuan. Lalu terjadilah tanya-jawab seputar keperluan pihak pria, sampai terjadi perkelahian antara kedua jawara, adu silat, adu golok (sereeem). Singkat cerita, jawara pihak perempuan kalah. Lalu dilangsungkanlah akad nikah, dilanjutkan dengan pesta pernikahan.
Ingin menyaksikan adu ilmu antarjawara Betawi? Datang saja ke Meruyung, Depok, pada 22 Juli 2007. Tapi, setelah menonton langsung pulang, ya, jangan nimbrung makan-makan. Hus
[x]


